4
ESOK harinya Chanira kembali menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika, menyiapkan makan, dan menyikat toilet, dengan sebaik mungkin. Namun di mata Nyonya Manisya, pekerjaan itu masih belum cukup baik sehingga Chanira harus dipukul, pukul, pukul, dengan wajan.
“Chanira oh Chanira! Rupanya kau tak pantas berada di tempat ini!”
Lalu, Bibi Sita membantu Chanira, membawanya kembali ke kamar untuk mengolesi bengkak itu dengan minyak urut, dan mengucapkan kalimat penyemangat yang sama seperti kemarin. Setelah itu, Chanira kembali bekerja dengan penuh rasa sakit dan ketakutan, dan sayangnya, ia kembali dipukul dengan wajan. Nyonya Manisya tidak merasa kasihan sedikit pun terhadap Chanira. Ia terus memukuli Chanira meskipun tahu bahwa anak itu sudah seperti binatang buruan yang sekarat. Hanya suara tangis Gopal yang mampu menghentikan Nyonya Manisya.
Pukul 23.50, Chanira merebahkan tubuh ringkihnya yang penuh bengkak di atas tikar yang kasar dan kotor. Terdengar suara keroncongan dari dalam perutnya. Ia tahu pekerjaan dan siksaan yang dialaminya hari ini membuat tubuhnya sangat lapar. Bibi Sita yang memahami kondisi Chanira, selalu berbaik hati memberikan makanan kepadanya.
“Makanlah, Nak. Kamu harus kuat. Setelah ini beristirahatlah. Semoga besok lebih baik dari hari ini.”
“Dhanyabab[1], Bibi Sita. Dhanyabab ….” Chanira melahap daal bhat itu, lalu Bibi Sita segera kembali ke kamarnya.
Chanira menghabiskan daal bhat sampai jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Ia tahu ia harus tidur sekarang. Namun, ia tidak bisa tidur karena tempat itu, alih-alih layak disebut kamar, lebih cocok disebut kandang kambing. Di sudut ranjang kayu yang lapuk, Chanira menggores kapur, menghitung-hitung jumlah pukulan yang ia terima. Sambil menggores, ia menatap wajahnya di cermin. Wajah dengan kulit kecokelataan itu semakin lusuh, menampilkan bola mata kanan yang juling. Semakin masuk akal bila si majikan memanggilnya \'Si Juling Jelek,\' pikirnya.
Lalu, ia melepas karet gelang yang mengikat rambut kusutnya dan kembali fokus menghitung, total ada 312 pukulan yang ia terima sampai hari ini. Meskipun ia belum bisa membaca, ia cukup pandai dalam menghitung karena kata Ama, hitung-menghitung adalah pelajaran paling penting agar bisa bertahan hidup, terutama menghitung uang. Kemudian, menit demi menit, Chanira tertidur akibat tubuhnya yang tak sanggup lagi menahan lelah.
Ia tidur, tidur, tidur, dan bangun, bangun, bangun, lalu dipukul, pukul, pukul. Kemudian tidur lagi, dan bangun, bangun, bangun lagi, lalu dipukul, pukul, pukul lagi. Setelah lima hari bekerja, tubuhnya dipenuhi bengkak dan sangat sulit untuk digerakkan.
Lagi-lagi, di sudut ranjang kayu yang lapuk itu, Chanira menggores kapur, menghitung-hitung jumlah pukulan yang ia dapatkan, bukan menghitung uang. Total sudah mencapai 462 pukulan yang ia terima. Setelah itu, Chanira memaksakan tubuhnya yang penuh bengkak untuk berbaring di atas tikar yang kasar dan kotor. Ia kemudian memaksa kedua matanya yang sembab agar bisa terpejam dan menuntunnya pada tidur malam yang nyenyak. Namun, semua itu sia-sia. Chanira kembali duduk mematung sembari merengek kepada dewa-dewi, kepada roh alam, dan kepada roh para leluhur.
“Ma, apa ini yang namanya tempatku untuk pulang? Aku ingin pulang, Ma,” rengeknya.
Angin malam berdesir seperti akan menyam-paikan permohonan itu ke semesta. Tapi tetap saja, di ruangan yang gelap dan kotor itu, tak ada satu pun makhluk yang mendengar permohonannya kecuali seekor tikus. Tikus hitam besar itu masuk dari ventilasi yang secara kebetulan diiringi dengan suara kokokan ayam dari balik dinding. Lalu, menit demi menit seperti biasanya, Chanira tertidur akibat tak sanggup lagi menahan lelah.
Sebuah tidur singkat yang membawanya pada pagi yang sangat sibuk.
“Chanira oh Chanira! Cepat bangun!”
Perlahan, Chanira merayap dari ranjangnya, kemudian merapikan baju dan membasuh muka dengan seember air yang ada di tepi ranjang. Lalu, ia berjalan menuju pintu dengan sangat lambat seperti seekor siput untuk menghadapi Nyonya Manisya.
“Cepatlah! Dasar lamban!”
“Baik, Nyonya Manisya.”
Akhirnya, ia berhasil meraih gagang pintu dan membukanya. Ketika di balik pintu itu menampakkan sosok Nyonya Manisya, ia mendengar kalimat yang begitu cepat diucapkan.
“Cepat cuci baju, setrika, menyapu, dan jam delapan belanja sayur di pasar. Ini uangnya, 50 Rupee!”
“Baik, Nyonya Manisya.”
Ia bergegas. Ia cuci, cuci, cuci, lalu setrika, setrika, setrika, kemudian sapu, sapu, sapu, dan seperti biasa, ia tidak melakukan semua pekerjaan itu dengan benar. Tibanya jam delapan pagi, ia menuju pasar yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Ia buta arah. Namun, beruntung di sekitar tempat itu banyak ibu-ibu yang berjalan kaki dengan membawa keranjang belanjaan untuk menuju pasar. Chanira pun mengekori mereka.
Jalan di Kathmandu memang selalu ramai. Tapi sekarang keramaian tersebut bukan disebabkan oleh para pelancong Gunung Everest, melainkan disebabkan oleh para demonstran yang sedang melakukan aksi. Chanira terheran-heran dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Para demonstran itu terus berteriak.
“K pais Nepali kera! Dengarlah wahai monyet-monyet Nepal! Dengarlah wahai engkau sang pemangku jabatan! Kami menentang! Kami menentang! Sistem lama kalian sudah usang! Nepal harus berbenah! Nepal sedang dilanda krisis demokrasi! Para Maois semakin membabi buta! Rakyat sipil semakin banyak terbunuh! Rakyat kecil semakin kelaparan! K pais Nepali kera! Dengarlah wahai monyet-monyet Nepal ….”
Chanira bertanya-tanya, tetapi semua pertanyaan itu sirna karena di depan mata ada penjual sayur yang sedang dicarinya. Belanja beres, ia segera kembali ke rumah majikan dengan langkah yang dipenuhi rasa sakit dan ketakutan.
Ketakutan itu benar-benar membawanya pada kenelangsaan. Sebab, Kopral Faneel yang baru saja pulang dari tugasnya, baru mengetahui bahwa kemampuan Chanira sangat tidak dapat diandalkan. Ditambah lagi, perbuatan Chanira yang lupa mencabut setrika hingga membuat seragam kebanggaan Kopral Faneel bolong, hampir saja menyebabkan rumah mereka terbakar. Atas semua hal tersebut, Kopral Faneel dan Nyonya Manisya sangat marah kepada Chanira.
Kedua manusia itu mengamuk seperti monster; seperti kerasukan roh jahat yang akan menghabisi anak kecil. Dengan wajan-wajan yang buritannya sudah menghitam, mereka memukulkannya ke tubuh Chanira sampai puas. Tapi sejatinya manusia, tidak akan pernah ada kata puas. Mereka pukul, pukul, dan pukul. Chanira tersungkur dan merintih kesakitan.
“To-tolong hentikan ….”
“Kau, si otak kosong tidak berguna! Tidak layak kau berada di rumah ini!” bentak Kopral Faneel.
Tak lama kemudian, Kopral Faneel menendang pantat Chanira begitu keras sehingga membuatnya terpental, kepala Chanira pun membentur dinding. Perlahan-lahan, ia meraba kepalanya, menemukan sebuah benjolan seukuran telur puyuh di sana. Dan tubuhnya yang membengkak sekarang sudah mulai kehilangan rasa.
Chanira merasa sangat takut dan bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Chanira tidak pernah menyangka bahwa Kopral Faneel akan melakukan kekejaman sebesar itu padanya.
Sejak awal, ia sudah memiliki firasat bahwa sifat Kopral Faneel sangat berbeda dengan sifat Nyonya Manisya. Sejak awal juga, selain untuk mendapatkan uang, Chanira berharap bahwa Kopral Faneel bisa menjadi figur ayah baginya. Namun hari ini, harapan itu hancur berkeping-keping.
Setelah itu, Nyonya Manisya kembali melanjutkan pukulannya. Dalam hati, Chanira menghitung: 595, 596, 597, 598, 599, 600. Dan di kepalanya, sebuah kalimat berputar terus-menerus: Chanira, oh Chanira! Rupanya, kau tak pantas berada di tempat ini! Kau, si otak kosong tidak berguna! Tidak layak kau berada di rumah ini!
Kalimat-kalimat itu menyebabkan Chanira merasakan rasa sakit yang mendalam di hatinya.
Lalu, ketika jam dinding menunjukkan pukul 09.00, suara berita di televisi membuyarkan amarah mereka.
Gerilyawan Maois berhasil memblokir sebagian besar jalur di Thankot, gerbang utama di bagian barat daya Kathmandu. Mereka sudah meledakkan beberapa tiang listrik dan telepon, serta merusak jalan-jalan penting menggunakan bom. Hingga saat ini, tercatat telah menelan 912 korban jiwa, sebagian besar di antaranya adalah rakyat sipil …
Berita tersebut kemudian diikuti dengan panggilan telepon kepada Kopral Faneel. Sebuah panggilan dari atasan yang memerintahkan untuk membantu para prajurit di Thankot yang kekurangan tenaga.
“Bukankah saya hanya bertugas di sekitar pusat kota Kathmandu, Jenderal?” tanya Kopral Faneel melalui telepon.
“Iya, tapi sekarang persoalannya berbeda. Para Mao makin menyerang secara membabi buta, dan sekarang target utama mereka adalah gerbang Thankot di perbatasan yang menuju Kathmandu. Lakukan saja tugasmu! Kamu lupa slogan tentara Gurkha? Lebih baik mati ketimbang jadi pengecut!” jawab Jenderal, kemudian ia menutup teleponnya.
Kopral Faneel kemudian mendekat ke Chanira sambil menatapnya. Tatapannya seperti seekor harimau Bengal yang mau menghabisi seekor kambing. Chanira benar-benar ketakutan, dan tubuhnya sangat gemetar.
“Oh, dengarlah! Sekarang Nepal sedang berperang melawan komunis. Kau tahu apa akibatnya perang? Ekonomi kita menurun, dan nyawa menjadi taruhan! Seharusnya kau bersyukur bisa bekerja di bawah lindungan keluarga militer Gurkha. Kami benar-benar merugi karenamu! Kami rugi sudah mengontrakmu karena kau tak bisa apa-apa! Kau selalu mengacau! Sekarang, jika kau mau uang dari kami, dan supaya kami bisa mengirim uang untuk Ama dan adikmu di desa, satu-satunya cara adalah dengan menjadi kurir untuk tentara Gurkha di Thankot!”
“Aku tak mau ikut-ikutan perang, Kopral. Tolonglah, aku ….”
“Hanya itu pilihanmu, atau aku akan menjualmu ke rumah bordil di Baglung!”
Chanira tidak bisa lagi berkilah. Ia sudah pasrah menerima takdirnya. Lalu, Kopral Faneel mencukur habis rambut Chanira agar tidak mengganggu dan bisa lebih pas saat mengenakan helm tentara. Setelah itu, Kopral Faneel melempar sekantong rambut Chanira ke tong sampah, menimbulkan suara dentang. Mereka pun segera bersiap menuju Thankot.
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Escape [end]
Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...